Sepanjang 2014, bisa dikatakan
konser Revolusi Bunga adalah konser premium Slank. Bertemakan Revolusi Bunga :
Generasi Wangi, Slank secara khusus mendedikasikan penampilannya kali ini untuk
wanita Indonesia. Konser ‘wangi’ ini diadakan di ball room 1 Ritz Charlton,
Pacific Place, Jakarta.
![]() |
Courtesy : TraxMagz.com |
Malam itu, Slank membuka konser
dengan lagu Bidadari Penyelamat (album Minoritas, 1995) yang dinyanyikan Bimbim
tanpa alat musik apapun. Bimbim, yang menghabiskan banyak hidupnya untuk Slank,
sudah berada di panggung sambil masih menyanyikan lagu tersebut. Kemudian Kaka
melanjutkan sisa lagu dan perlahan naik ke atas panggung disusul oleh tiga
personil lain dari formasi ke-14 yang sudah terbentuk sejak 1997 yaitu Ridho
dan Abdee (gitar), dan Ivanka (bass). Tanpa memberi jeda penonton untuk
berteriak, riff intro fenomenal dari Abdee mulai nakal mengusik penasaran
penonton. I Miss You But I Hate You (album Virus Road Show, 2002) berkumandang
mengajak semua penonton di kelas VIP maupun festival ikut bernyanyi. Disusul
lagu Virus (album Virus, 2001), kemudian Slank mulai menyapa penonton.
Youtube memberi peran penting saat tetangga Alm Gesang ikut serta naik panggung untuk berkolaborasi dengan Slank membawakan Kirim Aku Bunga (album Piss, 1993) dengan ukulele. Dua orang wanita dengan outfit vintage yang menambah kevintagean lagu lawas era Slank masih bersama Bongky, Indra dan Pay.
Kalau Kau Ingin Jadi Pacarku
(album Minoritas, 1995) adalah lagu berikutnya dari Slank. Tetangga Alm Gesang
kini duduk lesehan di meja yang ada di tengah panggung. Panggung memang dibuat
dengan konsep yang sangat homey dimana terdapat sebuah meja dengan banyak
gelas, teko, catur, juga kartu.
Kemudian Slank melanjutkan dengan
Terbunuh Sepi (album Generasi Biru, 1994) bersama Imel vokalis dari Ten 2 Five,
wanita kedua malam itu. Bimbim sempat bercerita tentang awal mula lagu tersebut
tercipta. Menurut pengakuannya, lagu itu tercipta saat di Puncak. Saat itu
hanya ada Bimbim dan Kaka, tiga personil lain sedang ke Jakarta. Yang pasti,
lagu ini membuat penonton (terutama Slankers lawas) ikut bernyanyi dan merasa
terbunuh oleh masa lalunya.
Imel bergabung ke meja dan bercengkerama dengan tetangga Gesang, sementara itu Bimbim berkoar menceritakan sebuah lagu dari album Tujuh. Bimbim meminta keputusan buat wanita di lagu tersebut, pilih dia atau orang lain. Ternyata pertanyaan Bimbim dijawab dengan diputuskannya si pria. Lagu tersebut berjudul Terserah.
Wanita ketiga kali ini adalah seorang pemain saxophone nan sensual. Perkenalkan Sista Anindya. Membawakan komposisi dari album Minoritas (tahun 1995), Jinna –Belasan Dalam Pelarian- menjadi lebih sexy dengan brass section dari Sista ini. Apalagi adanya moment ayng membuat shock saat sista dengan berani naik ke atas meja di mana ada wanita sebelumnya sedang duduk manis. Sebuah suguhan yang menarik dari pelaku yang juga menarik.
Slank kemudian memanggil Windy,
seorang pemain accordion yang dikenalnya saat di Amerika. Windy didaulat untuk
menemani Kaka di Anyer, 10 Maret (album Piss, 1993) yang membuat Bimbim, Ridho,
dan Ivanka ikut bergabung dengan wanita di meja yang ada di atas panggung. Abdee
terlihat tidak berada terlalu jauh dengan Windy. Sedangkan Ridho dan Ivanka
memilih bermain catur sementara lagu bernyanyi. Lagu Anyer memang sudah bagus
dari sana-nya, namun di tangan Windy, lagu Anyer menjadi terasa berada di level
yang berbeda.
Bimbim kemudian mengambil gitar, sendirian bernyanyi di Indonesiakan Una (album PLUR, 2004), lagu keresahan Bimbim tentang putrinya, dilanjutkan dengan Mawar Merah (album Kampungan, 1992) bersama semua personil. Kondisi sudah balik ke semula. Masing-masing personil sudah di posisi masing-masing. Lagu Percuma (album Piss, 1993) ciptaan Kaka dinyanyikan setelah sebelumnya Kaka menjelaskan perihal terciptanya lagu tersebut.
![]() |
Kaka pamer body |
Ada pergantian personil di lagu
Josephira (album Lagi Sedih, 1996). Slank bertukar posisi. Bimbim menjadi gitar
dan vocal, Abdee beralih ke keyboard, Ivanka megang gitar, bass diisi oleh Kaka
dan posisi drum dijalankan oleh Ridho dengan sangat apik. Yang menarik, lagu
ini tidak ada dalam songlist.
Tiga lagu terakhir adalah Ku Tak Bisa (album PLUR, 2004), Balikin (album Tujuh, 1997), dan Kamu Harus Pulang (album Generasi Biru, 1994). Di lagu terakhir, semua wanita diajak untuk bernyanyi bersama dan ada kedatangan khusus yaitu Ario Wahab yang terlihat sedang giting. Kamu Harus Pulang menjadi lagu penutup malam itu dan Slank pamit setelah sebelumnya memberi salam penghormatan dan membagi-bagikan pick serta stick drum. Keceriaan dan rasa puas penonton menjadi klimaks dari konser wangi tersebut.
****
Cerita Saya
Tahun 2004 adalah pertama kalinya
saya menonton langsung Slank secara langsung di GOR Bulungan, Jakarta. Saat itu
ada acara perayaan ulang tahun Ridho. Rasanya senang sekali bisa melihat
langsung Slank secara live. Dan sejak saat itu, saya selalu melihat live Slank
dari tahun ke tahun. Dari kelas kecil seperti perayaan ulang tahun personil di
Potlot, tur, bahkan konser kelas premium. Terakhir kali melihat Slank adalah di
SUGBK saat perayaan ulang tahun Slank ke 30. Maka dengan hadirnya saya di
konser Revolusi Bunga ini, saya genap 10 tahun menyaksikan live Slank dari
tahun ke tahun.
Berangkat bersama rekan, saya dan
rekan bisa masuk dengan menggunakan tag media dari seorang calo. Sebenarnya
jika dilihat dari penampilannya, dia bukan calo murni. Terlihat seperti seorang
fans juga. Dari semua calo, dialah yang paling nyaman menurut saya. Dengan
harga 90rb/orang, kami bisa masuk dengan tag media yang dia berikan.
Kami langsung menyerbu ke depan
panggung untuk bisa sedekat mungkin dengan bibir panggung. Tak ada pagar
pembatas membuat konser terasa semakin intim. Beruntung kami bisa merangsek ke
barisan yang lumayan baik. Dari situ, ada dua hal seru yang bisa dilakukan,
pengamatan dan menikmati konser.
Saya mengamati bagaimana prilaku
anak-anak Slank, juga mengamati setiap instrument, perubahan, dan hal kurang
penting lainnya (tapi menurut saya penting dan bagus untuk sebuah pemberitaan
yang lebih dalam dan terperinci), mungkin. Seperti yang saya ceritakan di atas,
ada personil yang bermain catur, atau Abdee yang membantu Windy saat bermain
accordion, juga Andre OPA yang mengambil gambar saat show, adalah hasil
pengamatan saya, selain tentunya menikmati konser.
![]() |
Andre OPA tertangkap basah |
Abdee adalah salah satu gitaris
yang paling saya suka. Kemarin, saya bersyukur bisa kembali mendapatkan pick
gitar langsung darinya. Kejadiannya tepat setelah lagu Virus. Saat itu jeda lagu
dan Kaka mulai memberi salam ke pengunjung. Saya dan beberapa penonton yang
berada di dekat Abdee meminta pick ke beliau. Saya ingat berteriak “Mas Abdee,
Renji Blues’s here…” dan akhirnya memang pick tersebut dilempar ke arah saya.
Dan saya pun mendapatkan pick tersebut terlepas dari didengar atau tidaknya
teriakan saya oleh beliau. Pick tersebut adalah pick ke-empat yang saya
dapatkan langsung dari beliau. Pick pertama didapat saat acara Inbox SCTV di
WTC Matahari pada 2009, pick kedua dan ketiga didapat saat I Slank U Concert
tahun 2012 di Riitz Charlton juga. Kecuali yang di Inbox, semua pick hasil
lemparan Abdee. Di Inbox, pick tersebut diberikan langsung ke tangan saya.
![]() |
Pick yang saya dapatkan |
![]() |
Abdee |
Balik lagi ke acara. Konser malam
itu terasa lebih menarik dengan adanya para wanita yang diajak berkolaborasi.
Beberapa memang sukses menyuguhkan sesuatu yang menarik dan unik seperti Windy,
Mia, dan Sista, namun beberapa lainnya terkesan biasa saja. Konsep yang rumahan
juga menjadi daya tarik yang menarik. Saya bahkan melihat langsung Kaka dan
Bimbim berganti pakaian di atas panggung (ada gantungan baju di belakang drum
Bimbim). Para tamu yang tidak langsung turun dan berkumpul riang di meja
lesehan pun menandakan bagaimana Slank menempatkan wanita; sebagai tamu
kehormatan juga respect terhadap teman lama. Satu-satunya yang menyebalkan dari
konser saat itu bagi saya adalah, adanya Slankers bawel yang selalu berkomentar
tak jelas setiap ada adegan ataupun sapaan dari personil. Ingin menegornya,
tapi perasaan sedang tak ingin rusak.
Sista Anindya, pemain saxophone
di lagu Jinna -Belasan Dalam Pelarian- adalah wanita yang menarik perhatian
saya malam itu. Kami sering bertatapan sekian detik, lalu membuang pandangan
kea rah lain. Sampai akhirnya saya merasa dia sosok yang friendly, maka saya
memutuskan untuk meminta berfoto bersamanya sehabis konser. Permintaan itu saya
utarakan saat para artis berpamitan dari atas panggung. Rupanya respon darinya
juga bagus, terus jadi deh Koko Crunch.
Sebelum meninggalkan panggung,
saya meminta songlist kepada crew Abdee. Alhamdulillah saya diberi olehnya,
padahal saat itu ada 3-4 orang selain saya yang juga meminta songlist. Ini
adalah songlist pemberian darinya yang kedua sejak yang pertama saya dapatkan
di Jakarta Blues Festival 2013 lalu. Ucapan terimakasih saya haturkan
kepadanya, juga untuk air mineral yang berada di panggung yang juga tak luput
untuk saya minta.
Sebubar acara, inginnya langsung
keluar, namun Ario Wahab yang sepertinya sedang giting datang menghampiri. Saya
pun bersalaman dan membisikkan kalimat “Bang, lo dari jauh mirip Dave Grohl.’,
tapi reaksi dia tetep senyum gitu. Saat rekan saya datang, dia meyakinkan saya
bahwa si papa rock n roll itu memang in high condition. Tapi herannya, gak
tercium bau minuman. Biarkanlah. Akhirny foto bareng dengannya.
![]() |
Ario Wahab yang sekilas mirip Dave Grohl |
Di luar venue, masih banyak
orang-orang yang sibuk dengan berbagai macam kegiatannya. Ada yang berfoto
selfie maupun groupie, ada juga yang menuju bar atau juga ke toilet. Saya
memilih untuk menunggu dekat pintu masuk VIP. Menunggu siapa saja artis yang
hadir di situ. Penantian tidak berlangsung lama, karena kemudian saya bertemu
dengan JFlow, Olga Lidya, dan juga orang dari media; Adib Hidayat (Rolling
Stone Indonesia), dan Andre OPA (Trax Magz). Sedikit berbincang dengan mas
Adib, juga dengan mas Andre. Tak lupa saya memperkenalkan diri kepada Mas Adib
saat ingin meminta berfoto bersamanya. Oh iya, saya juga bertemu dengan mas Buddy
Ace, namun tak sempat berfoto bersama.
![]() | ||||
Kiri: Andre OPA (TraxMagz), Kanan: Adib Hidayat (Rolling Stone Indonesia) |
Ajakan permintaan foto bareng
dengan Sista terwujud saat ia keluar dari ruang VIP yang juga akses masuk para
artist malam itu. Setelah memberi waktunya sedikit untuknya mengobrol dengan
Jflow, saya langsung berbicara dengannya “ Sist, kamu berhutang satu hal
denganku…” yang dijawab olehnya dengan sebuah pertanyaan. Singkat cerita, kami
berfoto bersama.
![]() |
With JFlow, Olga Lidya, Ario (again), dan Sistha Anindya |
Sesaat menjelang pulang, kami
bertemu lagi dengan rombongan Ario, dan kami meminta kembali berfoto dengannya
karena situasinya yang sepi. Sebelumnya saat berfoto di sekitaran panggung,
banyak sekali orang yang juga minta berfoto bersamanya.
Dengan harga yang relative murah
(harga tix asli 450k paling murah, belum termasuk pajak), saya merasa bersyukur
dan beruntung dengan semua yang saya dapatkan. Rekan pun mengakui hal itu.
Kepuasan yang sangat puas. Mungkin lain kali, saya lebih tertarik menjadi seorang
dengan tag media di dada, untuk dapat menyalurkan minat saya dalam hal
menikmati sebuah suguhan acara, mengamatinya, dan menceritakan kepada Anda
semua. Ya, kepada Anda semua.
Best Point : Kolaborasi dengan Windy, Sista, dan Mia
Bad Point : Ligthting cenderung standar
Plus point : konsep panggung yang homey
Minus point : gak dapet potongan tiket